hello sobat IMC, malam ini kita mau berbagi wawasan nih. Tentang sejarah musik Indie.. yoooi,, belajar sejarah lagi kita..hahahaa
Musik indie itu dikenal pertama kali di era 50an guys. Waktu itu dikenalnya musisi "underground" . Kenapa? Dulu, selepas perang dingin nih. Musik kena imbas juga bro. Kebebasan berekspresi jadi tertekan. Musik milik kalangan elit aja. Akhirnya, di Paris mulai tuh terkenal musisi yang berkonser di subway, fenomena underground namanya. Ada juga musik-musik alternatif nih guys di Amerika. Selain itu ada juga musik skinhead fi Inggris. Semua itu kalangan yg keluar dari jalur elite yang mainstream pada zaman itu guys.
Masuk deh zaman Flower Generation semasa perang dingin. Perang 2 ideologi besar di dunia ini juga mempengaruhi musik guys. Mulai lah musik yang bertemakan sosial beredaran di jalur underground. Sex Pistol band, itu band underground yang sangat kental dengan aroma flower generation guys. Menggunakan sepatu boots, bentuk pemberontakkan mereka terhadap kekerasan militer dan perang. Rambut mohawk mereka itu bentuk toleransi terhadap kaum Indian yang tersisihkan karena kedatangan bangsa Eropa. Yang paling menghentak dunia itu, cover album mereka yang memampang poto Ratu Elizabeth menggunakan tindik peniti di hidungnya. Waow!!!!
Bukan hanya itu, Woodstock (pagelaran musik) di Amerika pada tahun 1969 mengambil tema “Make Peace Not War”. Tema ini adalah bentuk protes terhadap perang Vietnam. Atau lirik fenomenal dari Bob Marley yang berseru ‘Emancipate your self, from mental slavery’. Inilah deretan bentuk perlawanan flower generation. Bukan hanya sekedar menyuguhkan musik alternatif, tapi juga sarat akan muatan sosial. Selain itu masihbanyak band lain yang kelak menjadi influence band-band di masa setelahnya. Sebut saja Rolling Stones, The Clash, The Ramones, Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabath, dll. This is UNDERGROUND maaan!!!
Di Indonesia sendiri memang dari dulu ibarat kata itu, latah dengan perkembangan musik dunia. Gak heran kala itu presiden Soekarno sampai memenjarakan Koes Plus karena di anggap memainkan musik yang dianggap sarat akan budaya kapitalisme internasional. Walau sebenarnya Koes Plus saat itu hanya memainkan musik yang berisi materi-materi kebebasan.
Pada tahun 70an perkembangan musik di belahan utara bumi melaju cepat, memacu juga perkembangan musik di tanah air. Guruh Gipsy, Gang Pegangsaan,God Bless, Giant Step, Super Kid, The Rollies, dll adalah sederet nama yang bisadisebut sebagai peletak pondasi musik Indonesia pada masa kontemporer. Secara musikalitas mereka adalah maestro-maestro dunia musik Indonesia. Mereka juga mempopulerkan semangat kemerdekaan (independent / indie) dalam berkarya. Walau pada jaman itu belum adamanajemen musik yang cukup bagus, tapidengan pengalaman seadanya mereka mulai bekerja sama membangun jaringan.Hal itu dilakukan guna meluaskan musik mereka. Tercatat pula Majalah Aktuil, banyak membantu perkembangan musik pada masa 70an. Melalui tulisan dan peran aktif individu-individu di dalamnya, Aktuil mempromosikan band-band pada jaman itu. Media dan musik adalah 2 hal yang tak akan pernah terpisahkan. Apalagi di jalur indie seperti ini.
Pada periode 1990an, perkembangan musik underground semakin pesat. Booming Sepultura dan Metalica menginfluence anak-anak muda Indonesia. Berhadapan dengan industri mainstream yang didominasi oleh rock melayu dan artis wanita, maka jalur underground-lah yang dipilih. Dengan berbasiskan komunitas serta mengandalkan fanzine (buletin-buletin), budaya underground semakin meluas. Dimulailah pembangunan scene-scene musik alternative di masa itu.Kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, dan Jogjakarta menjaditempat berkembangnya komunitas-komunitas underground. Pada masa itu musik metal menjadi sebuah suguhan altenatif. Selain itu banyak band mulai berani berekspresi dengan menempatkan isu-isu sosial dalam lirik-liriknya.PAS band memulai tradisi merilis album secara indie. Album mereka “Four Through The SAP” terjual lebih dari 5000 copy. Selanjutnya banyak band metal dan rock lain memakai metode indie. Tercatat nama-nama seperti Puppen, Koil, Burger Kill, Rotten To The Cure, dll di masa-masa awal perkembangan musik Indie kontemporer Indonesia.
Ada sekian banyak album, termasuk album-album kompilasi yang dirilis bersama oleh band-band pada jaman itu. Mereka terbantukan dengan pembangunan komunitas-komunitas musik. Begitu juga dengan fanzine (buletin) yang berfungsi untuk mempromosikan hasil karya mereka. Panggung-panggung kecil juga kerap digelar di kafe-kafe. Hal ini selaras denganpembangunan industri kreatif kaum mudalainnya, seperti clothing dan distro.
Istilah indie sendiri mulai tenar itu pertengahan 90an guys. Dulu, untuk musik yang keluar jalur yang mainstream dikenal dengan sebutan underground. Namun, seiring perkembangan zaman, istilah Underground lebih identik dengan musik-musik metal. Jadi sebutan indie lebih dikenal dan lazim digunakan.
Pure Saturday menjadi pionir band-band dengan aliran selain metal yang membuatalbum rekaman sendiri. Grup band ini tercatat mencetak album pertamanya pada tahun 1995 dengan tajuk “Not A Pup E.P”. Keberhasilan mencetak album ini lantas diikuti oleh sederet nama lain seperti Waiting Room, Pestol Aer, Toilet Sound, dll.Selanjutnya booming Indie semakin menjadi, ketika Mocca (band Swing Pop asal Bandung) sukses menembus angka di atas 100.000 copy dalam penjualan kaset mereka. Keberhasilan Mocca, turut membawa dampak bagi perkembangan musik indie guys. Selanjutnya deretan nama seperti Puppen, Shaggy Dog, Superman IsDead, Rocket Rockers, Superglad, dll mencuri perhatian para penikmat musik.
Bahkan sebagian dari nama-nama di atas di tawari bekerja sama dengan label major. Hal itu memancing perdebatan di kalangan musisi indie. Sebagian menganggap mereka melenceng dari ideologi independen, sebagian menganggap mereka pantas untuk memperkenalkan karya mereka lebih ke masal.
Saat label major gembar gembor meneriakkan anti bajakan, musisi indie justru membagikan kaset mereka secara gratis, sebut saja KoiL yang membagikan albumnya di majalah Roling Stone Indonesia kala itu, sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan label major.
Perkembangan musik Indie pun semakin pesat. Banyak yang kita sayangkan, di negeri kita ini justru musik indie malah dijadikan perlombaan. Festival musik indie tidak seharusnya di adakan. Karena menurut kami musik indie itu untuk dinikmati tanpa adanya batasan-batasan penilaian.
Harapan kami di Indiepreneur Music Community, semua bisa berjalan bersama-sama dan mencatatkan nama kami di buku sejarah musisi indie. Dan bisa menjadi budaya tandingan untuk acara musik dan budaya yang mainstream di Indonesia. Menurut kami, i inilah saat yang tepat untuk musisi Indie mendapatkan nama di blantika musik Indonesia. Karena bisa dibilang, musik Indonesia semenjak kedatangan boyband yang kurang berkualitas, nilai seni dan kualitas pendengarpun menjadi labil. Dimana kiblat musik Indonesia sekarang? Siapa tau kamulah yang akan menjadi legenda!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar